Stimulasi Sensorik Anak Usia 1–2 Tahun yang Sensitif terhadap Tekstur
Penulis: Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), 19 Agustus 2026

Usia 1-2 tahun adalah masa emas perkembangan sensorik (kemampuan indra: raba, lihat, dengar, rasa, cium) dan motorik (kemampuan gerak tubuh) anak. Namun, tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir karena anaknya terlihat kurang aktif bergerak, enggan menyentuh tekstur tertentu, atau tampak kurang tertarik mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan, terutama terkait apakah tumbuh kembang anak sudah berjalan sesuai tahapannya. Berikut penjelasan mengenai penyebab dan cara menstimulasi kemampuan sensorik-motorik anak usia 1-2 tahun.
Kenapa Stimulasi Sensorik-Motorik Penting di Usia 1-2 Tahun?
Menurut Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, dokter spesialis anak yang menjadi mitra dalam Buku Saku Generasi Berani Exploring dari Betadine Indonesia, bermain merupakan kebutuhan dasar anak, bukan sekadar hiburan tambahan. Pada anak usia 1-2 tahun, aktivitas sensorik dan motorik saling berkaitan erat untuk anak belajar bergerak melalui rangsangan indra, dan sebaliknya, rangsangan indra diperkuat melalui gerakan tubuh. Bila stimulasi ini kurang optimal, dapat memengaruhi kesiapan anak dalam mengeksplorasi lingkungan, kekuatan otot dasar, hingga rasa percaya dirinya saat mencoba hal baru.
Penyebab Anak Kurang Aktif Bergerak atau Menghindari Tekstur Tertentu
Beberapa hal umum yang dapat mendasari kondisi ini antara lain:
- Sensitivitas tekstur (sensory issue). Sebagian anak memiliki kepekaan sensorik yang lebih tinggi terhadap tekstur tertentu, misalnya pasir, adonan, atau permukaan yang lengket. Anak dengan kondisi ini biasanya juga mudah terganggu oleh tekstur pakaian atau makanan tertentu.
- Kurangnya paparan aktivitas gerak sejak dini. Anak yang jarang diberi kesempatan merangkak, berdiri, atau bergerak bebas dapat mengalami kekuatan otot dasar yang belum optimal untuk usianya.
- Pengalaman kurang menyenangkan saat eksplorasi. Jika anak pernah terjatuh atau terkejut saat mencoba aktivitas fisik tertentu, pengalaman itu dapat membuatnya lebih berhati-hati atau menghindari aktivitas serupa di kemudian hari.
- Keterbatasan ruang atau kesempatan bereksplorasi. Anak yang lebih sering berada di dalam ruangan dengan sedikit variasi aktivitas cenderung memiliki lebih sedikit kesempatan melatih kemampuan sensorik-motoriknya.
6 Ide Bermain Sensorik-Motorik yang Bisa Dicoba di Rumah
- Kotak Sensori Sederhana Isi wadah dengan bahan bertekstur beda seperti beras, pasta kering, atau potongan spons basah. Biarkan si kecil mengeksplorasi dengan tangan atau sendok kecil. Aktivitas ini melatih indra raba sekaligus koordinasi jari.
- Menggelindingkan dan Melempar Bola Duduk berhadapan, lalu gelindingkan bola bergantian. Selain melatih koordinasi mata-tangan, ini juga jadi cara pertama anak belajar konsep "giliran" dalam bermain.
- Merangkak Lewat Terowongan Gulung selimut atau gunakan kardus bekas jadi "terowongan" sederhana. Merangkak melewati ruang sempit membantu melatih kekuatan otot besar dan keberanian bergerak.
- Menari Mengikuti Musik Putar lagu dengan tempo berbeda, lalu biarkan anak bergerak bebas mengikuti irama. Ini melatih keseimbangan tubuh sekaligus respons terhadap rangsangan suara.
- Menyusun dan Merobohkan Balok Susun 2-3 balok, biarkan dia coba menumpuk sendiri (atau meruntuhkannya, yang justru sering jadi bagian paling seru). Aktivitas ini melatih genggaman jari dan kesabaran.
- Jalan-jalan Sambil Menyentuh Tekstur Ajak keliling rumah atau taman, biarkan tangan atau kaki kecilnya menyentuh rumput, pasir, atau air. Pengalaman sensorik di luar ruangan ini sulit digantikan mainan apa pun.
Apabila anak menunjukkan tanda lain, seperti sangat menghindari sentuhan secara umum, belum menunjukkan kemajuan gerak sesuai usianya, atau tampak jauh lebih rewel dibanding anak seusianya saat distimulasi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk evaluasi lebih lanjut.
Aktivitas Alternatif Pengganti Jika Anak Belum Siap dengan Tekstur Tertentu
Selama anak masih dalam proses adaptasi terhadap tekstur atau gerakan tertentu, stimulasi sensorik-motorik tetap dapat diberikan melalui aktivitas alternatif berikut:
- Menari mengikuti musik, untuk melatih keseimbangan tubuh dan respons terhadap rangsangan suara tanpa perlu menyentuh tekstur asing.
- Menyusun balok besar, membantu melatih genggaman jari dan koordinasi tanpa unsur sensorik yang membuat anak tidak nyaman.
- Jalan-jalan di area yang familiar, membiarkan anak menyentuh permukaan yang sudah ia kenal seperti rumput di halaman rumah sendiri.
- Permainan air dalam wadah kecil, alternatif tekstur yang umumnya lebih mudah diterima anak dibanding tekstur padat seperti pasir.
Pemberian alternatif ini penting agar stimulasi sensorik-motorik anak tetap berjalan, sambil secara bertahap memperkenalkan kembali tekstur atau aktivitas yang sebelumnya dihindari.
Kapan Perlu Berkonsultasi ke Profesional?
Jika anak menunjukkan penghindaran terhadap sentuhan atau gerakan dalam waktu lama, disertai keterlambatan pencapaian motorik lain sesuai usianya, atau tampak sangat terganggu saat distimulasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak sangat dianjurkan untuk mengetahui penyebab yang mendasari serta mendapatkan penanganan yang tepat.
Buku Saku Generasi Berani Exploring dari Betadine Indonesia, yang disusun bersama Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menyediakan panduan lengkap ide bermain sesuai tahapan usia anak beserta catatan keamanannya, sebagai referensi tambahan bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang si kecil.
Untuk informasi lebih lanjut atau melakukan konsultasi, kunjungi kliniklalita.com atau linktr.ee/klinik.lalita

