Artikel Klinik Lalita

Hubungan Tekstur MPASI dengan Perkembangan Bicara Anak
MPASI tidak hanya berperan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak, tetapi juga menjadi salah satu bentuk stimulasi oral motor. Saat anak belajar menerima berbagai tekstur makanan, otot-otot di area mulut seperti lidah, bibir, rahang, dan pipi ikut terlatih untuk bergerak lebih terkoordinasi.
Kemampuan oral motor ini berperan penting dalam dua hal utama, yaitu proses makan dan perkembangan bicara. Gerakan mengunyah, menggerakkan lidah, menutup bibir, serta mengontrol rahang merupakan kemampuan dasar yang juga dibutuhkan anak saat menghasilkan bunyi dan mengucapkan kata dengan jelas.
1. Usia 0–6 bulan
Kemampuan oral motor anak masih didominasi oleh refleks menghisap dan menelan. Di usia ini, bayi belum melakukan proses mengunyah secara aktif. Perkembangan bicara juga masih berada pada tahap vokalisasi awal, seperti suara refleks atau suara-suara sederhana.
2. Usia 6–9 bulan
Anak mulai belajar mengunyah dengan gerakan rahang naik-turun atau gerakan vertikal. Otot rahang mulai lebih kuat dan anak mulai menunjukkan perkembangan bicara berupa babbling, seperti mengeluarkan bunyi “ba-ba” atau “ma-ma”. Pada tahap ini, stimulasi rahang melalui tekstur makanan yang sesuai dapat membantu membangun dasar produksi suara.
3. Usia 9–12 bulan
Kemampuan mengunyah anak mulai berkembang menjadi gerakan diagonal atau lateral. Anak mulai membutuhkan koordinasi yang lebih baik antara lidah dan rahang untuk memindahkan makanan di dalam mulut. Di tahap ini, babbling biasanya semakin bervariasi dan anak mulai mengulang suku kata, seperti “mama”, “papa”, “baba”, atau “dada”. Koordinasi lidah berperan besar dalam pembentukan suku kata.
4. Usia 12–18 bulan
Gerakan mengunyah anak mulai semakin kompleks. Anak mulai melakukan gerakan memutar atau rotary chewing. Koordinasi oral motor juga semakin matang sehingga artikulasi mulai berkembang. Anak dapat mulai menghasilkan bunyi konsonan yang lebih beragam, tidak hanya bunyi sederhana seperti B, P, M, D, atau T. Gerakan mengunyah yang semakin matang dapat mendukung kejelasan produksi bunyi.
5. 18–24 bulan
Kemampuan mengunyah anak biasanya semakin berkembang. Gerakan memutar menjadi lebih matang, bicara mulai semakin jelas, dan anak mulai mengucapkan kombinasi 1–2 kata, seperti “mau makan” atau “minta susu”. Kematangan mengunyah pada tahap ini dapat berkontribusi terhadap kejelasan artikulasi dan kemampuan anak dalam mengombinasikan kata.
Pemberian tekstur MPASI yang sesuai usia penting karena anak membutuhkan latihan bertahap untuk mengembangkan kemampuan oral motornya. Jika anak terlalu lama diberikan makanan dengan tekstur yang sangat halus, stimulasi pada otot mulut dapat menjadi kurang optimal.
Akibatnya, otot lidah, bibir, dan rahang mungkin tidak mendapatkan cukup latihan untuk bergerak secara lebih kompleks. Anak juga bisa menjadi lebih sulit menerima makanan dengan tekstur yang lebih kasar di tahap berikutnya.
Kurangnya latihan mengunyah dapat berdampak pada keterampilan makan anak, seperti kesulitan mengunyah, menolak tekstur tertentu, atau sering melepeh makanan. Dalam jangka panjang, hal ini juga dapat berkaitan dengan perkembangan artikulasi bicara, terutama bila kemampuan oral motor anak belum berkembang optimal.
Orang tua perlu memperhatikan perkembangan oral motor anak, terutama jika muncul beberapa tanda berikut:
Jika tanda-tanda tersebut menetap atau disertai keterlambatan bicara, orang tua sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga profesional agar anak dapat diperiksa dan diberikan stimulasi yang sesuai.
11 Juni 2026

Tes IQ Anak: Kapan Perlu Dilakukan dan Apa Manfaatnya?
Setiap anak memiliki cara belajar, berpikir dan memecahkan masalah yang berbeda. Untuk memahami kemampuan intelektual anak secara lebih objektif, salah satu metode yang sering digunakan adalah Tes IQ (Intelligence Quotient). Hasil tes ini dapat membantu orang tua, guru maupun tenaga profesional memahami kekuatan dan kebutuhan anak dalam proses belajar dan perkembangan sehari-hari.
Namun, masih banyak orang tua yang bertanya-tanya: Apa sebenarnya Tes IQ anak itu? Kapan perlu dilakukan? Apakah sama dengan tes minat bakat? Dan mengapa tes ini penting, terutama bagi Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)?
Tes IQ Anak adalah serangkaian alat ukur psikologis yang dirancang untuk menilai kemampuan intelektual atau kecerdasan umum seorang anak. Tes ini dilakukan oleh psikolog menggunakan instrumen yang telah terstandarisasi dan memiliki validitas ilmiah.
Tes IQ (Intelligence Quotient) menggambarkan kemampuan anak dalam berbagai aspek kognitif, seperti:
Tes IQ tidak hanya mengukur kemampuan berhitung atau kemampuan akademik semata. Penilaian dilakukan pada berbagai aspek fungsi kognitif yang saling berkaitan.
Beberapa aspek yang umumnya dinilai dalam Tes IQ anak meliputi:
1. Kemampuan Verbal
Mengukur kemampuan anak dalam:
2. Kemampuan Penalaran Logis
Menilai kemampuan anak dalam:
3. Memori Kerja (Working Memory)
Mengukur kemampuan anak dalam:
4. Kecepatan Pemprosesan Informasi
Menilai seberapa cepat anak dapat:
5. Kemampuan Visual Spasial
Mengukur kemampuan anak dalam:
Tidak semua anak harus menjalani Tes IQ secara rutin. Namun, terdapat beberapa kondisi yang membuat pemeriksaan ini sangat dianjurkan. Orang tua dapat mempertimbangkan Anak untuk Tes IQ apabila:
1. Mengalami Kesulitan Belajar
Misalnya:
2. Diduga Memiliki Kecerdasan Tinggi
Beberapa tanda yang dapat muncul:
3. Sebagai Persiapan Pendidikan
Tes IQ sering digunakan untuk:
4. Ketika Direkomendasikan oleh Profesional Psikolog, guru, dokter anak, atau terapis mungkin menyarankan Tes IQ untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi anak.
Secara umum, Tes IQ sudah dapat dilakukan sejak usia sekitar 4 hingga 5 tahun menggunakan alat tes yang sesuai dengan tahap perkembangan anak. Namun, usia yang sering dianggap lebih ideal untuk memperoleh hasil yang lebih stabil adalah usia 6 tahun ke atas atau usia sekolah dasar. Pada usia ini kemampuan bahasa, perhatian, dan kerja sama anak biasanya sudah berkembang lebih baik sehingga hasil tes menjadi lebih akurat. Meski demikian, anak usia prasekolah tetap dapat menjalani Tes IQ apabila terdapat kebutuhan khusus atau rekomendasi dari psikolog.
Hasil Tes IQ memberikan gambaran mengenai posisi kemampuan intelektual anak dibandingkan kelompok usia yang sama. Perlu diingat bahwa angka IQ bukan satu-satunya faktor yang menentukan keberhasilan anak. Kesuksesan Anak juga dipengaruhi oleh:
Oleh karena itu, hasil Tes IQ sebaiknya dipahami secara menyeluruh bersama penjelasan dari psikolog.
9 Juni 2026

Ciri Gangguan Perkembangan Anak yang Sering Diabaikan Orang Tua
Perkembangan setiap anak memang bisa berbeda-beda. Ada anak yang lebih cepat bicara, ada yang lebih dulu aktif bergerak, dan ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai milestone tertentu.
Namun, orang tua tetap perlu memperhatikan beberapa tanda yang dapat menjadi red flags tumbuh kembang anak, terutama jika tanda tersebut muncul terus-menerus atau disertai keterlambatan pada aspek perkembangan lain.
Beberapa ciri gangguan perkembangan anak sering kali terlihat sederhana, tetapi sebenarnya penting untuk diperhatikan sejak dini. Semakin cepat anak mendapatkan pemeriksaan dan stimulasi yang tepat, semakin baik peluang anak untuk berkembang sesuai kebutuhannya.
Red flags tumbuh kembang adalah tanda peringatan bahwa perkembangan anak perlu dipantau lebih lanjut. Tanda ini tidak selalu berarti anak pasti mengalami gangguan perkembangan, tetapi bisa menjadi alasan bagi orang tua untuk melakukan evaluasi lebih awal.
Gangguan perkembangan anak dapat berkaitan dengan kemampuan komunikasi, interaksi sosial, motorik, perilaku, hingga kemampuan anak memahami lingkungan sekitarnya. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak hanya memperhatikan kapan anak bisa berjalan atau bicara, tetapi juga bagaimana anak merespon, berinteraksi, dan berkomunikasi dengan orang di sekitarnya.
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah ketika anak jarang melakukan kontak mata. Pada bayi, kemampuan menatap wajah orang tua merupakan bagian dari perkembangan sosial awal. Orang tua perlu lebih waspada jika anak jarang menatap wajah saat diajak bicara, tidak tampak tertarik melihat ekspresi orang tua, atau tidak membalas senyuman sesuai usianya. Minim kontak mata pada anak bisa berkaitan dengan gangguan interaksi sosial. Namun, kondisi ini tetap perlu dinilai secara menyeluruh oleh tenaga profesional, karena penyebabnya bisa beragam dan tidak selalu mengarah pada satu diagnosis tertentu.
Ciri lain yang sering diabaikan adalah ketika anak tidak menoleh atau tidak merespon saat namanya dipanggil, terutama pada usia lebih dari 9 bulan. Pada usia ini, umumnya anak mulai menunjukkan respons saat dipanggil, misalnya menoleh, melihat ke arah suara, atau menunjukkan ekspresi tertentu. Jika anak sering tidak merespon meskipun pendengarannya normal, orang tua perlu lebih memperhatikan perkembangan komunikasi dan interaksi sosialnya.
Anak tidak merespon saat dipanggil bisa menjadi salah satu tanda adanya keterlambatan komunikasi, gangguan pendengaran, atau pada beberapa kondisi dapat berkaitan dengan tanda awal autisme pada anak. Karena itu, pemeriksaan lebih lanjut penting dilakukan agar penyebabnya dapat diketahui dengan lebih tepat.
3. Anak Tidak Menunjuk pada Usia 12–14 Bulan
Menunjuk adalah salah satu bentuk komunikasi non-verbal yang penting dalam perkembangan anak. Melalui menunjuk, anak mulai belajar menyampaikan keinginan, menunjukkan benda yang menarik, atau mengajak orang lain memperhatikan sesuatu.
Jika anak tidak menunjuk, tidak melambaikan tangan, tidak menunjukkan benda yang diinginkan, atau tidak menggunakan gestur sederhana pada usia 12–14 bulan, hal ini dapat menjadi tanda bahwa perkembangan komunikasi sosialnya perlu dievaluasi.
9 Juni 2026

Anak Kecanduan Gadget? Waspadai Bahaya Brain Rot & Screen Time Berlebih!
Di era digital seperti sekarang, tontonan di media sosial makin beragam — mulai dari video lucu, aneh, sampai yang bikin bingung.Belakangan ini muncul istilah baru seperti “tontonan anomali” dan “brain rot” yang ramai di internet.
Istilah ini terdengar rumit, tapi dampaknya nyata, terutama pada perkembangan otak anak yang masih tumbuh.
Tontonan anomali adalah video yang dibuat dengan efek visual dan suara yang berlebihan, bahkan kadang menggunakan kecerdasan buatan (AI). Video jenis ini biasanya aneh, tidak masuk akal, tapi justru menarik perhatian anak karena warnanya mencolok dan gerakannya cepat.
Sedangkan brain rot menggambarkan kondisi di mana otak terlalu sering menerima rangsangan dari konten yang cepat, berlebihan, dan dangkal. Akibatnya, otak anak jadi terbiasa berpikir cepat tapi tidak dalam.
Kalau dibiarkan terus, otak anak bisa kehilangan kemampuan untuk fokus, berpikir kritis, dan mengatur emosi. Ibaratnya, otak anak seperti tubuh yang hanya diberi camilan gurih tanpa makanan bergizi — lama-lama bisa “lapar gizi otak”.
Menurut berbagai penelitian, anak yang menonton layar lebih dari 1–2 jam per hari berisiko mengalami gangguan pada fungsi otaknya. Bagian otak yang mengatur bahasa, fokus, dan kontrol emosi bisa melemah karena terlalu sering menerima stimulasi dari layar.
Berikut dampak bahaya screen time pada anak yang perlu diwaspadai:
Semakin lama anak terpapar tontonan cepat dan berwarna mencolok, semakin besar risiko brain rot dan gangguan konsentrasi di kemudian hari.
Kecanduan gadget tidak selalu terlihat dari anak yang rewel. Kadang justru anak terlihat “anteng banget” karena terlalu fokus menatap layar. Berikut tanda-tanda kecanduan gadget anak yang harus diperhatikan:
Anak marah, cemas, atau gelisah saat layar dimatikan. Bahkan bisa berbohong soal durasi menonton.
Anak bisa tiba-tiba rewel atau tantrum ketika gadget diambil. Ini tanda otak belum bisa mengatur emosi dengan baik.
Anak menolak bermain, membaca, atau bersosialisasi karena semua hal di luar layar terasa membosankan.
Paparan cahaya biru dari layar membuat anak susah tidur. Kurang tidur bisa memperburuk kemampuan fokus dan pengendalian emosi.
Anak sulit menyelesaikan tugas tanpa gangguan, karena otaknya terbiasa dengan stimulasi cepat dari video.
Video dengan warna mencolok dan suara lucu memicu pelepasan dopamin, zat yang membuat anak merasa senang. Karena itu, anak mudah ketagihan dan ingin menonton terus.
Konten cepat memberi kepuasan tanpa perlu berpikir. Anak jadi terbiasa dengan hal-hal yang instan dan tidak sabar menghadapi aktivitas lambat seperti membaca atau menggambar.
Konten “absurd” membuat anak ingin terus menonton untuk mencari makna, padahal semakin lama justru membuat bingung dan kecanduan.
Tanpa pendampingan, anak bisa terus terseret ke video dengan isi yang makin aneh dan tidak sesuai usianya. Algoritma platform juga otomatis menyarankan video serupa, membentuk spiral tontonan berbahaya.
7 November 2025

Anakku Takut & Nggak Mau Makan Nasi? Ini Penyebab dan Solusinya!
Cek tumbuh kembang di Klinik Lalita kalau AyBun mulai khawatir si Kecil mengalami kesulitan makan atau perubahan perilaku makan yang tidak biasa. Yuk, kita bahas kenapa anak tidak mau makan nasi dan bagaimana cara mengatasinya dengan benar!
Beberapa anak punya sensory issue atau gangguan pemrosesan sensori. Mereka bisa sensitif terhadap tekstur nasi yang berbutir dan lengket, sehingga merasa tidak nyaman atau bahkan takut saat makan nasi. Anak dengan sensory issue anak juga biasanya mudah terganggu oleh suara, tekstur pakaian, atau rasa tertentu pada makanan.
Saat masa MPASI, beberapa anak terbiasa makan makanan lembut seperti puree atau bubur halus. Karena itu, ketika mulai makan nasi dengan tekstur padat, anak bisa kaget dan menolak nasi. Ini wajar, tapi perlu dilatih perlahan agar anak terbiasa dengan tekstur makanan yang lebih kompleks.
Jika si Kecil pernah tersedak atau muntah setelah makan nasi, bisa jadi muncul trauma makan nasi anak. Pengalaman negatif ini membuatnya takut makan nasi dan cenderung menghindari makanan bertekstur serupa.
Ada juga anak yang lebih suka roti, pasta, atau kentang dibanding nasi. Kalau ini terjadi terus-menerus, anak jadi punya pola makan terbatas dan enggan makan nasi. Kondisi ini sering disebut picky eater nasi, yaitu anak yang hanya memilih jenis karbo tertentu.
Mulai dari nasi lembek atau bubur kasar, lalu perlahan ubah ke tekstur nasi biasa. Ini membantu anak tidak takut makan nasi karena adaptasinya terjadi pelan-pelan.
Jangan khawatir jika anak masih belum mau makan nasi. Pastikan anak tetap dapat sumber karbohidrat bergizi seperti ubi, kentang, jagung, roti, atau pasta.
Bentuk nasi jadi bola-bola kecil atau pakai cetakan lucu. Ajak anak eksplorasi dengan santai tanpa tekanan. Anak yang merasa aman akan lebih mudah mencoba makan nasi lagi.
Segera konsultasi ke dokter atau terapis jika:
Ini bisa jadi tanda hipersensitivitas sensorik yang perlu diperiksa lebih lanjut oleh dokter spesialis anak atau terapis okupasi.
✨ Jangan ragu untuk cek tumbuh kembang di Klinik Lalita, karena deteksi dini bisa membantu anak mengatasi kesulitan makan dan tumbuh lebih optimal.
6 November 2025

Kenapa Anak Takut Rumput? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
Pernahkah AyBun melihat anak takut rumput, menangis, atau langsung mengangkat kaki ketika menyentuh rumput di taman? Tenang, hal ini bukan berarti Si Kecil manja atau takut kotor, kok! Banyak anak yang merasakan hal serupa — dan ternyata, ini bisa terjadi karena sensitivitas berlebih terhadap sentuhan.
Kondisi ini dikenal dengan istilah hipersensitif sensori taktil, yaitu ketika otak anak belum bisa memproses sensasi dari kulit dengan baik. Akibatnya, tekstur rumput, pasir, atau kain tertentu bisa terasa “aneh”, tidak nyaman, bahkan menyakitkan bagi Si Kecil.
Anak bisa takut injak rumput karena sistem sensori di tubuhnya masih berkembang. Indra peraba (taktil) yang ada di kulit mengirim sinyal ke otak tentang apa yang disentuh. Namun, pada anak dengan kepekaan sensori tinggi, otak bisa salah memproses informasi itu sehingga sensasi yang seharusnya lembut malah terasa berlebihan.
Beberapa kemungkinan penyebabnya antara lain:
Jadi, ketika anak tidak mau injak rumput, itu bukan karena ia takut bermain, tapi karena tubuhnya belum nyaman dengan sensasi tersebut.
Coba AyBun perhatikan, apakah Si Kecil menunjukkan beberapa tanda berikut?
Jika beberapa tanda di atas muncul, bisa jadi Si Kecil memiliki sensitivitas sentuhan atau gangguan sensorik pada anak. Dalam istilah lain, kondisi ini sering disebut tactile defensiveness.
Kabar baiknya, kondisi anak takut rumput ini bisa diatasi secara perlahan dengan pendekatan yang lembut dan bermain sambil belajar.
Berikut beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan di rumah:
1. Kenalkan Tekstur Secara Bertahap
Mulai dari hal ringan seperti bermain dengan kain lembut, spons, atau rumput buatan. Setelah anak lebih nyaman, baru kenalkan tekstur alami seperti pasir atau rumput sungguhan.
2. Jadikan Pengalaman yang Menyenangkan
Ajak anak bermain sambil tertawa atau bernyanyi agar ia mengaitkan sensasi baru dengan hal positif. Misalnya, ajak berlarian di taman bersama, bukan memaksanya berdiri di rumput.
3. Jangan Dipaksa
Kalau anak tidak mau injak rumput, biarkan dulu. Pemaksaan justru bisa membuatnya semakin takut. Dukung dengan kata-kata positif seperti, “Nggak apa-apa, nanti kita coba lagi ya kalau kamu sudah siap.”
4. Latih Rasa Aman
Berikan sentuhan lembut, seperti pijatan ringan atau pelukan, untuk membantu anak mengenali sensasi sentuhan yang nyaman dan menenangkan.
5. Konsultasi dengan Dokter atau Terapis
Jika kepekaan anak terasa sangat kuat dan mengganggu aktivitasnya, sebaiknya konsultasikan ke dokter spesialis anak atau terapis tumbuh kembang. Mereka dapat membantu melakukan penilaian sensorik dan memberikan latihan yang sesuai.
Anak takut rumput adalah hal yang umum terjadi dan biasanya berkaitan dengan hipersensitif sensori taktil atau kepekaan terhadap sentuhan.
Dengan dukungan dan stimulasi yang tepat, Si Kecil bisa beradaptasi dan menjadi lebih nyaman berinteraksi dengan dunia sekitarnya.
Ingat, AyBun — setiap anak tumbuh dengan cara unik.Peran kita adalah menemani, memahami, dan membantu mereka menikmati setiap langkah tumbuh kembangnya
30 Oktober 2025

Screen Time Anak di Bawah 2 Tahun: Dampak, Batas Aman, dan Faktanya
Apakah anak di bawah usia 2 tahun sudah boleh screen time? Pertanyaan ini sering muncul di benak para orang tua, apalagi di era digital yang serba cepat seperti sekarang. Gadget, televisi, dan video edukatif sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, tapi apakah semuanya aman untuk perkembangan anak? Yuk, kita bahas bersama agar AyBun bisa lebih bijak dalam mengatur screen time si Kecil.
Screen time adalah waktu yang dihabiskan anak untuk berinteraksi dengan layar — baik menonton TV, bermain gadget, menatap tablet, hingga melakukan panggilan video.
Meskipun terlihat sederhana, durasi dan kualitas screen time ternyata bisa berdampak besar pada perkembangan anak, terutama di masa golden age (0–5 tahun) saat otak tumbuh sangat pesat.
Menurut rekomendasi American Academy of Pediatrics (AAP), berikut batasan screen time yang disarankan:
Tidak disarankan screen time sama sekali, kecuali untuk panggilan video (misalnya dengan orang tua atau keluarga yang berjauhan). Interaksi langsung jauh lebih penting dibandingkan melihat layar.
Boleh mulai diperkenalkan dengan konten edukatif, tapi harus didampingi orang tua. Pastikan AyBun berinteraksi selama anak menonton, misalnya dengan menjelaskan isi video atau mengajak anak meniru hal positif dari tontonan tersebut.
Screen time maksimal 1 jam per hari. Pilih tontonan edukatif, interaktif, dan sesuai usia anak.
Tidak ada batas pasti, tapi pastikan screen time tidak menggantikan aktivitas penting seperti tidur, bermain di luar, waktu bersama keluarga, atau belajar.
Memberikan screen time terlalu cepat atau tanpa pengawasan bisa berdampak pada tumbuh kembang anak, seperti:
Kalau AyBun sudah memutuskan untuk memperkenalkan screen time, pastikan kontennya berkualitas. Berikut tipsnya:
Pergantian gambar tiap 1–2 detik bisa membuat anak kesulitan fokus di dunia nyata.
Terlalu banyak pengulangan tanpa variasi membuat anak kurang terstimulasi berpikir.
Hindari video dengan suara keras dan warna terlalu mencolok agar anak tidak overstimulasi.
Misalnya video yang mengajak anak menjawab pertanyaan, bernyanyi, atau menebak bentuk.
Orang tua tetap berperan penting untuk menjelaskan, memberi konteks, dan mencontohkan perilaku positif dari tontonan tersebut.
Anak di bawah 2 tahun sebaiknya belum diberikan screen time, kecuali dalam kondisi tertentu seperti panggilan video.
Namun, screen time bukan hal yang sepenuhnya buruk — asalkan digunakan dengan bijak, sesuai usia, dan tetap di bawah pengawasan orang tua.
Utamakan aktivitas yang lebih bermanfaat seperti bermain, membaca buku, atau berinteraksi langsung dengan orang tua. Aktivitas nyata memberikan stimulasi yang lebih kaya bagi tumbuh kembang anak.
28 Oktober 2025

Cara Mengatasi Tantrum Anak Tanpa Menakuti: Mitos atau Fakta?
Tantrum memang sering membuat orang tua kewalahan. Saat si Kecil menangis, menjerit, hingga melempar barang, banyak Ayah dan Bunda merasa bingung harus bagaimana bertindak. Salah satu cara yang cukup sering dilakukan adalah menakuti anak agar berhenti tantrum. Namun, apakah cara ini efektif dan tepat? Yuk, kupas mitos dan fakta seputar menakuti anak saat tantrum.
Menakuti anak saat tantrum untuk meredakan emosi adalah sebuah mitos.
Faktanya, menakuti anak bukanlah cara yang tepat untuk meredakan tantrum. Justru, hal ini dapat memperburuk kondisi emosional anak dengan meningkatkan stres, kecemasan, dan rasa takut berlebihan. Akibatnya, anak menjadi sulit belajar mengelola emosinya secara sehat karena fokusnya bergeser dari memahami perasaan menjadi berusaha menghindari rasa takut.
- Meningkatkan Rasa Takut dan Stres
Anak jadi mudah cemas dan takut menghadapi situasi baru, yang berpotensi menghambat perkembangan rasa percaya dirinya.
- Menghambat Regulasi Emosi
Anak tidak belajar cara menenangkan diri, melainkan hanya berfokus pada rasa takut yang memunculkan reaksi berlebihan.
- Memengaruhi Hubungan Emosional dengan Orang Tua
Kelekatan antara anak dan orang tua bisa terganggu jika anak merasa tidak dimengerti atau orang tua cenderung menimbulkan rasa takut.
Daripada menakuti, coba pendekatan positif yang lebih efektif dengan strategi R.I.D.D berikut:
1. Remain Calm (Tetap Tenang)
Jaga emosi dan gunakan nada suara yang netral. Contohnya, "Mama tahu kamu marah, tapi tidak boleh melempar mainan." Nada tenang akan membantu anak merasa aman dan mulai belajar mengatur emosinya dari contoh orang tua.
2. Ignore (Abaikan dengan Aman)
Saat anak belum membahayakan diri sendiri, abaikan perilaku tantrumnya. Jangan terpancing marah karena reaksi keras justru dapat memperbesar frekuensi tantrum.
3. Distract (Alihkan Perhatian)
Setelah emosi anak mulai reda, alihkan perhatian ke aktivitas lain seperti membaca buku, bermain puzzle, atau jalan-jalan sebentar untuk mengubah suasana hati.
4. Do Not Give In (Jangan Menyerah)
Jangan mudah memenuhi keinginan anak ketika tantrum. Jika keinginannya selalu dipenuhi saat marah, anak akan mengulangi perilaku tantrum setiap kali ingin sesuatu.
Menakuti anak saat tantrum bukan solusi yang tepat, malah dapat memperparah masalah emosionalnya dan berdampak negatif jangka panjang seperti ketakutan berlebihan dan gangguan regulasi emosi. Kunci utama adalah tetap tenang, konsisten, dan menunjukkan empati agar anak belajar mengelola emosinya dengan cara yang sehat dan positif. Ayah dan Bunda bisa menjadi teladan dalam mengajarkan anak bahwa marah itu wajar, tetapi harus diungkapkan dengan cara yang baik dan aman.
Yuk, bantu si Kecil tumbuh dengan kebiasaan mengelola emosi yang kuat dan sehat tanpa rasa takut!
23 Oktober 2025

5 Rekomendasi Tempat Wisata Edukatif Anak yang Seru dan Bermanfaat untuk Liburan Keluarga
Liburan bukan hanya soal bersenang-senang, tapi juga momen tepat untuk belajar sambil bermain bagi anak. Wisata edukatif anak menjadi solusi cerdas bagi Ayah dan Bunda yang ingin memberikan pengalaman seru sekaligus bermanfaat untuk si Kecil. Melalui aktivitas langsung seperti melihat hewan, menanam tanaman, maupun eksperimen sains sederhana, anak-anak tidak hanya mengasah rasa ingin tahu, tetapi juga membangun kepercayaan diri mereka. Berikut ini 5 rekomendasi tempat wisata edukatif terbaik di Indonesia yang cocok dijadikan destinasi keluarga untuk mengisi akhir pekan atau liburan sekolah anak.
Contoh: KidZania, PPIPTEK TMII, Museum Sains Jakarta Tempat ini sangat tepat untuk anak yang senang berimajinasi dan bereksperimen. Anak bisa mencoba berbagai peran profesi seperti dokter, pilot, atau ilmuwan dalam suasana bermain yang edukatif.
💡 Manfaat:
Contoh: Kuntum Farmfield (Bogor), Jendela Alam (Bandung) Anak-anak diajak berinteraksi langsung dengan alam, seperti memberi makan hewan ternak, memanen sayur, dan belajar menanam tanaman. Tempat ini memberi pengajaran tentang proses dan pentingnya kerja keras.
💡 Manfaat:
Contoh: Jakarta Aquarium, Seaworld Ancol Tempat wisata ini menawarkan pengalaman memukau melihat kehidupan bawah laut secara langsung, mulai dari ikan hias, pinguin, hingga ubur-ubur. Anak-anak bisa belajar memahami ekosistem laut sekaligus hiburan menyenangkan.
💡 Manfaat:
Contoh: Scientia Square Park (Tangerang), Eco Park Ancol Menggabungkan aktivitas fisik dengan edukasi, taman ini menghadirkan wahana yang merangsang motorik serta pemahaman sains dasar tentang tumbuhan dan hewan. Tempat ini juga mendorong anak untuk bersosialisasi dan berpetualang.
💡 Manfaat:
Contoh: Playdate Creative Space, KidzArt Studio Anak yang gemar berkreasi akan sangat menikmati tempat ini. Anak bisa terlibat dalam aktivitas melukis, membuat kerajinan tangan, dan eksperimen kecil yang mengasah imajinasi dan ekspresi diri.
💡 Manfaat:
Memilih destinasi wisata edukatif untuk anak memberikan pengalaman berharga yang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga bermanfaat untuk perkembangan kognitif, emosional, dan sosial si Kecil. Orang tua dapat memanfaatkan waktu liburan untuk menunjang belajar melalui pengalaman nyata yang menstimulasi rasa ingin tahu dan kreativitas anak. Liburan keluarga menjadi momen berkualitas yang mempererat ikatan sekaligus memupuk karakter positif anak.
21 Oktober 2025

Tanda dan Gejala Gangguan Perkembangan Bayi Usia 0–18 Bulan yang Sering Terlewat
Setiap bayi memiliki keunikan dan ritme tumbuh kembang yang berbeda, namun ada beberapa tanda atau gejala gangguan perkembangan yang dapat muncul sejak dini bahkan sebelum anak berusia 18 bulan. Sayangnya, tanda ini sering dianggap sepele atau “nanti juga bisa sendiri”. Padahal, semakin cepat dikenali maka semakin besar pula peluang anak mendapat dukungan tepat agar tumbuh kembangnya optimal. Yuk, kenali apa saja ciri yang perlu AyBun waspadai.
Normalnya, bayi sudah bisa menatap wajah orang tua sejak usia 6–8 minggu. Kalau di atas 3 bulan si Kecil jarang menatap wajah saat diajak bicara, atau tidak membalas senyuman, bisa jadi ini gejala gangguan perkembangan anak terutama dalam hal interaksi sosial anak.
Biasanya, bayi akan menoleh atau memberi reaksi saat namanya dipanggil. Kalau anak tidak menanggapi nama meskipun pendengarannya normal, ini bisa menjadi tanda keterlambatan komunikasi nonverbal. Sering kali hal ini juga dikaitkan dengan ciri autisme pada bayi, jadi jangan disepelekan ya AyBun.
Menunjuk adalah salah satu cara anak berkomunikasi sebelum bisa bicara. Kalau anak tidak pernah menunjuk untuk meminta atau menunjukkan sesuatu, itu termasuk milestone perkembangan anak yang terlewat dan bisa jadi tanda gangguan perkembangan sosial.
Patokan sederhana yang bisa AyBun perhatikan:
Kalau kondisi ini terjadi, bisa jadi tanda tanda keterlambatan bicara atau speech delay. Lebih baik segera diperiksa agar penyebabnya jelas dan penanganan lebih cepat.
Kalau si Kecil lebih suka main benda berulang-ulang (menyusun, memutar, atau mengelompokkan), tapi kurang merespons saat dipanggil atau diajak tersenyum, AyBun perlu hati-hati. Kondisi ini sering muncul sebagai gangguan perkembangan sosial dan bisa menjadi salah satu ciri autisme pada balita.
Beberapa anak menunjukkan gerakan berulang anak, seperti mengepakkan tangan, berputar-putar, atau mengayun badan. Kalau gerakan ini terlalu sering, menetap, dan tidak sesuai tahap usia, bisa jadi bagian dari gejala gangguan perkembangan anak yang perlu diperhatikan.
Selain tanda di atas, beberapa bayi juga memiliki sensitivitas sensorik anak. Misalnya terlalu sensitif terhadap suara keras, tekstur tertentu, atau pakaian. Ini bisa membuat mereka tampak rewel, susah makan, atau menolak aktivitas tertentu.
Milestone perkembangan anak adalah panduan penting untuk melihat apakah tumbuh kembang si Kecil sesuai usianya. Kalau ada satu saja milestone yang terlewat, AyBun jangan menunggu terlalu lama. Semakin cepat intervensi dilakukan, semakin efektif hasilnya dan potensi anak bisa lebih maksimal.
Kalau AyBun menemukan gejala gangguan perkembangan anak di atas, meski hanya satu, sebaiknya segera konsultasi ke dokter anak atau klinik tumbuh kembang. Evaluasi sejak dini akan membantu menentukan apakah kondisi ini hanya keterlambatan sementara atau tanda gangguan yang butuh pendampingan lebih lanjut. Di Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita, kami percaya setiap anak punya potensi besar. Tugas kita adalah mendukung, memberikan stimulasi yang tepat, dan memastikan tumbuh kembang anak berjalan sebaik mungkin.
16 Oktober 2025

Anak Bilingual Telat Bicara? : Mitos Speech Delay yang Harus AyBun Tahu
Banyak orang tua khawatir kalau anak bilingual telat bicara karena sejak kecil diajarkan dua bahasa. Faktanya? Itu hanya mitos! Belajar dua bahasa sejak dini tidak menyebabkan speech delay, malah bisa bikin anak lebih cerdas loh AyBund!
Banyak yang percaya kalau bilingualisme menyebabkan keterlambatan bicara. Padahal, penelitian membuktikan sebaliknya.
Jadi, bilingual anak speech delay adalah salah kaprah. Kuncinya: bilingual tidak menyebabkan keterlambatan bicara, hanya cara perkembangannya berbeda.
Usia 0–5 tahun disebut sebagai masa emas atau golden age belajar bahasa.Pada fase ini, otak anak sangat cepat menyerap kata dan bunyi.Kalau dikenalkan dua bahasa sejak dini, anak justru lebih mudah menguasainya hingga dewasa.
Mengajarkan dua bahasa sejak kecil punya banyak manfaat. Berikut beberapa keuntungan bilingualisme anak:
Singkatnya, anak bilingual bukan speech delay, tapi justru lebih terlatih secara kognitif.
Kadang AyBun panik karena merasa kosakata anak bilingual lebih sedikit daripada teman sebayanya. Tenang, ini wajar! Kalau dihitung total, jumlah kosakata bilingual vs monolingual perkembangan bahasa hampir sama. Artinya, beda kosakata bukan tanda keterlambatan, tapi cara belajar yang unik.
Walau bilingual bukan penyebab speech delay, milestone bicara anak tetap perlu dipantau.
Kalau anak belum mencapai tahap ini, sebaiknya konsultasi ke dokter spesialis anak atau klinik tumbuh kembang.
Kesimpulan
Jadi, jangan takut, AyBun. Mengenalkan dua bahasa sejak dini bukan bikin anak telat bicara, tapi malah membantu mereka tumbuh lebih pintar!
16 Oktober 2025

ADHD Bisa Sembuh Gak Ya?
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity DIsorder) adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai dengan kesulitan berkelanjtuan dalam mempertahankan perhatian, mengontrol impuls, dan hiperaktif. Banyak yang bertanya, “ADHD bisa sembuh gak ya?”
Fakta tentang ADHD yang AyBun perlu tau!
Jadi kesimpulannya, ADHD itu tidak bisa sembuh, namun gejalanya bisa dikontrol dengan baik. Dengan terapi yang tepat, si Kecil tetap bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.
30 September 2025

Manfaat Akupunktur untuk Tumbuh Kembang Anak dan Kondisi yang Bisa Dibantu
Akupunktur anak adalah terapi medis yang menggunakan stimulasi titik-titik saraf tertentu di tubuh untuk membantu menyeimbangkan sistem saraf, hormon, dan daya tahan tubuh anak. Terapi ini dilakukan oleh dokter spesialis akupunktur medik dan terbukti aman untuk mendukung tumbuh kembang anak.
Berikut adalah penjelasan mekanisme terapi akupunktur anak berdasarkan ilmu kedokteran:
1. Mengoptimalkan Fungsi Saraf dan Otak
Stimulasi pada titik tertentu akan memodulasi aktivitas sistem saraf pusat dan otonom. Ini membantu meningkatkan fungsi otak, memperbaiki regulasi emosi dan perilaku, serta meningkatkan konsentrasi dan fokus anak. Terutama bermanfaat untuk anak dengan kesulitan konsentrasi, tantrum, atau hiperaktivitas.
2. Meningkatkan Sirkulasi Darah dan Oksigenasi
Akupunktur anak meningkatkan aliran darah ke otak dan jaringan tubuh. Hal ini mempercepat pemulihan, memperkuat metabolisme sel, serta membantu pertumbuhan dan perkembangan otak yang optimal.
3. Menyeimbangkan Hormon dan Neurotransmiter
Terapi akupunktur membantu mengatur hormon pertumbuhan, kortisol (stres), serta zat kimia otak lain yang berperan dalam pengaturan tidur, nafsu makan, dan suasana hati anak.
4. Memperkuat Sistem Imun dan Mengurangi Inflamasi
Terapi akupunktur pada anak juga bekerja dengan cara memodulasi sistem imun. Efek ini membantu mengurangi risiko infeksi berulang, mengatasi peradangan kronis, dan meningkatkan daya tahan tubuh secara keseluruhan.
5. Mendukung Neuroplastisitas Otak
Neuroplastisitas adalah kemampuan otak untuk membentuk koneksi saraf baru. Terapi akupunktur merangsang proses ini, sehingga sangat bermanfaat untuk anak dengan keterlambatan perkembangan, speech delay, atau Autism Spectrum Disorder (ASD).
Ya, akupunktur untuk anak aman bila dilakukan oleh dokter spesialis akupunktur medik. Jarum yang digunakan sangat halus dan tekniknya disesuaikan dengan usia serta kondisi medis anak. Efek samping minimal dan dapat ditoleransi dengan baik.
Fungsi akupunktur anak tidak hanya untuk relaksasi, tapi juga mendukung pemulihan dan tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Jika anak Anda mengalami masalah tidur, emosi, konsentrasi, atau gangguan perkembangan lainnya, konsultasikan terapi akupunktur ke klinik terpercaya seperti Klinik Lalita.
Yuk konsultasikan terlebih dahulu dengan dr. Dion Rukmindar, Sp.Ak di Klinik Lalita.
25 September 2025

Kenapa si Kecil Sering Jalan Jinjit?
Normal jika:
Perlu diwaspadai jika:
Jika tidak ada masalah lain, jalan jinjit biasanya akan hilang sendiri setelah usia 2-3 tahun
Jika jalan jinjit terus terjadi atau disertai tanda lain, bisa jadi ada penyebab medis, seperti:
Jika jalan jinjit disertai keterlambatan perkembangan lain, segera periksakan ke dokter
Jika si Kecil masih jalan jinjit setelah usia 3 tahun atau menunjukkan tanda berikut:
Jika si Kecil memiliki tanda-tanda ini, jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter spesialis anak untuk evaluasi lebih lanjut yaa AyBun!
23 September 2025

Berbohong pada Anak Berbahaya? Ini Dampak dan Cara Menghindarinya
Banyak orang tua pernah melakukan white lies atau kebohongan kecil kepada anak, seperti:
Meskipun terdengar sepele, kebiasaan orangtua berbohong pada anak bisa membawa dampak psikologis yang serius. Praktik ini dikenal dengan istilah parenting by lying, yaitu strategi pengasuhan dengan cara memanipulasi perilaku anak lewat kebohongan.
Beberapa alasan umum orangtua berbohong kepada anak antara lain:
Berbagai studi psikologi menunjukkan bahwa dampak berbohong pada anak tidak bisa diremehkan. Kebiasaan ini dapat:
Daripada menggunakan kebohongan, berikut cara komunikasi yang sehat dan jujur:
Parenting by lying atau kebiasaan berbohong pada anak mungkin terlihat sepele, tapi bisa berdampak jangka panjang pada perilaku, kepercayaan diri, dan hubungan anak dengan orang tua. Komunikasi yang jujur dan konsisten adalah kunci utama pengasuhan yang sehat.
Jika AyBun ingin berkonsultasi lebih lanjut soal cara berkomunikasi yang tepat dengan anak, yuk datang ke Klinik Lalita! Psikolog kami siap mendampingi proses tumbuh kembang anak secara menyeluruh.
🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
23 September 2025

Akupunktur Anak: Apa Itu dan Apa Saja Manfaatnya?
Akupunktur anak adalah terapi yang dilakukan dengan cara menstimulasi titik-titik tertentu di tubuh anak menggunakan jarum halus, laser, atau tekanan (akupresur). Terapi ini bertujuan membantu memperbaiki berbagai fungsi tubuh, seperti tidur, pencernaan, emosi, dan daya tahan tubuh.
Berbeda dari akupunktur tradisional, akupunktur medik anak dilakukan oleh dokter dan berbasis ilmu anatomi, fisiologi, dan bukti ilmiah medis.
Berbagai penelitian dan pengalaman klinis menunjukkan bahwa akupunktur medik anak bermanfaat untuk:
Cocok untuk anak dengan GTM (Gerakan Tutup Mulut) atau gangguan makan. Akupunktur membantu memperbaiki kerja sistem pencernaan dan menyeimbangkan hormon lapar.
Anak yang susah tidur, sering terbangun, atau sulit rileks bisa terbantu dengan terapi akupunktur. Stimulasi titik tertentu mendorong produksi hormon melatonin alami.
Bermanfaat untuk anak dengan ADHD, autisme, atau gangguan sensorik. Akupunktur membantu menenangkan sistem saraf dan meningkatkan perhatian.
Anak yang mudah sakit atau alergi berulang bisa mendapat manfaat dari stimulasi titik yang memperbaiki fungsi sistem imun.
Akupunktur membantu anak yang sering tantrum, cemas, atau kesulitan beradaptasi dengan perubahan.
Akupunktur cocok untuk anak dengan kondisi berikut:
📍 Klinik Lalita menyediakan layanan akupunktur medik anak yang dilakukan langsung oleh dr. Dion Rukmindar, Sp.Ak, dokter spesialis akupunktur medik yang berpengalaman menangani anak-anak dari berbagai usia dan kondisi.
Akupunktur anak adalah terapi medis yang aman dan efektif untuk membantu tumbuh kembang, emosi, dan kesehatan anak secara menyeluruh. Terapi ini bisa dikombinasikan dengan terapi wicara, okupasi, atau perilaku untuk hasil yang optimal.
Jika Anda ingin tahu apakah terapi ini cocok untuk anak Anda, jangan ragu untuk konsultasikan langsung dengan dr. Dion Rukmindar, Sp.Ak di Klinik Lalita.
23 September 2025

Jangan Batasi Ruang Gerak Si Kecil! Ini Alasan Penting di Masa Golden Age
Halo Ayah dan Bunda! Tahukah Anda, masa golden age (usia 0–5 tahun) adalah periode emas saat otak anak berkembang pesat? Salah satu kunci penting agar perkembangan anak optimal di fase ini adalah membiarkan mereka aktif bereksplorasi tanpa membatasi ruang geraknya. Membatasi gerak anak justru bisa menghambat perkembangan fisik, kognitif, dan sosialnya.
Yuk, simak mengapa kebebasan bermain itu sangat penting untuk tumbuh kembang anak
Anak yang ruang geraknya dibatasi lebih rentan mengalami:
Ayah dan Bunda, yuk dukung si Kecil tumbuh optimal dengan memberikan ruang gerak yang cukup dan mainan yang sesuai untuk mendukung perkembangannya! Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut tentang perkembangan anak, Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita siap mendampingi setiap langkah tumbuh kembang si Kecil dengan layanan profesional dan penuh kasih sayang.
9 September 2025

Efek Samping Gadget: Bagaimana Penggunaan Berlebihan Mempengaruhi Perkembangan Anak?
Orang tua memegang peran penting dalam mengelola dan mengurangi screen time dengan menetapkan batasan yang jelas, meningkatkan kesadaran tentang dampak negatifnya, serta memberikan contoh yang baik dalam penggunaan gadget
4 September 2025

Makanan yang Perlu Dihindari untuk Si Kecil dengan ADHD
Beberapa studi menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat memperburuk gejala ADHD, seperti meningkatkan hiperaktivitas, menganggu konsentrasi, dan mempengaruhi kualitas tidur. Bukan berarti si Kecil sama sekali tidak boleh mengonsumsi makanan ini, tetapi jika terlalu sering, gejalanya bisa semakin sulit dikendalikan. Oleh karena itu, penting untuk lebih memperhatikan pola makan si Kecil
Beberapa pilihan yang lebih terjangkau dan mudah ditemukan meliputi
Mengelola ADHD tidak hanya dengan terapi, tetapi juga dengan pola makan yang lebih sehat. Dengan pemilihan makanan yang tepat, anak dapat lebih fokus, tenang, dan memiliki energi yang stabil sepanjang hari.
2 September 2025

Sleep Training Anak: Metode & Cara Melatih Tidur Mandiri
Sleep training anak adalah proses mengajarkan anak untuk tidur sendiri secara mandiri, tanpa perlu digendong, disusui, atau ditemani terus-menerus.
Tujuan utama sleep training adalah agar anak bisa:
Usia ideal memulai sleep training adalah 4–6 bulan, saat anak sudah bisa tidur lebih lama dan tidak perlu menyusu terlalu sering di malam hari. Namun, sleep training tetap bisa dilakukan untuk balita usia 1–3 tahun dengan metode yang disesuaikan.
Berikut beberapa metode sleep training yang umum digunakan:
✅ Gunakan rutinitas tidur malam yang konsisten
✅ Hindari screen time minimal 1 jam sebelum tidur
✅ Pastikan kamar tidur tenang dan gelap
✅ Tetap tenang dan konsisten selama proses
✅ Pilih metode sleep training yang cocok dengan anak dan orang tua
✅ Lakukan saat anak dalam kondisi sehat
Sleep training aman dan tidak merusak bonding, jika dilakukan dengan cara yang tepat dan disesuaikan dengan kesiapan anak. Banyak penelitian menunjukkan bahwa anak yang menjalani sleep training memiliki kualitas tidur yang lebih baik dan tidak mengalami masalah emosi atau trauma.
Sleep training anak adalah cara efektif untuk membentuk pola tidur mandiri sejak dini. Dengan metode yang tepat dan konsistensi, anak bisa belajar tidur sendiri tanpa bantuan. Ini bukan hanya bermanfaat untuk anak, tapi juga meningkatkan kualitas tidur orang tua.
📍 Ingin tahu metode sleep training mana yang cocok untuk si Kecil? Tim Klinik Lalita siap mendampingi AyBun dalam prosesnya. 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
26 Agustus 2025

Tips Tidur Nyenyak Anak: Rutinitas Malam & Sleep Hygiene
Tidur nyenyak membantu anak tumbuh lebih optimal, fokus belajar, dan stabil secara emosi. Namun, agar anak bisa tidur nyenyak, orang tua perlu menerapkan rutinitas tidur malam yang konsisten dan sleep hygiene anak yang baik.
Sleep hygiene adalah kebiasaan tidur sehat yang membantu anak:
Kebiasaan ini penting untuk mencegah masalah tidur anak, seperti susah tidur malam, rewel, atau bangun terlalu pagi.
Mulai rutinitas tidur 45–60 menit sebelum waktu tidur, misalnya:
Lingkungan fisik juga memengaruhi kualitas tidur anak. Pastikan:
Tips tidur nyenyak anak meliputi rutinitas malam yang konsisten dan sleep hygiene yang baik. Dengan lingkungan tidur yang nyaman dan kebiasaan tidur yang terstruktur, anak bisa tidur lebih nyenyak, tumbuh lebih optimal, dan lebih bahagia.
📍 Perlu panduan sleep hygiene anak atau menangani anak susah tidur malam? Tim Klinik Lalita siap membantu. 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
19 Agustus 2025

Berapa Lama Balita Harus Tidur? Rekomendasi Jam Tidur Berdasarkan Usia
Pertanyaan yang sering ditanyakan orang tua adalah: “Berapa jam tidur balita yang ideal sesuai usia?”
Tidur yang cukup merupakan salah satu faktor penting dalam tumbuh kembang anak, memengaruhi sistem imun, pertumbuhan fisik, hingga kemampuan belajar. Itulah kenapa penting sekali mengetahui rekomendasi jam tidur anak berdasarkan usia.
Berdasarkan konsensus American Academy of Sleep Medicine (AASM), berikut durasi tidur ideal anak per kelompok usia:
Jika anak tidur terlalu sedikit:
Jika tidur berlebihan:
Durasi tidur balita sangat penting untuk tumbuh kembang optimal. Pastikan anak tidur sesuai rekomendasi jam tidur berdasarkan usia agar kesehatannya terjaga, konsentrasi meningkat, dan emosinya stabil.
📍 Ingin berkonsultasi soal pola tidur dan tumbuh kembang anak? Yuk konsultasikan dengan tim Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita melalui: 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
14 Agustus 2025

Masalah Tidur Balita: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya
Tahukah AyBun? Sekitar 25–30% balita mengalami masalah tidur. Sleep disorders pada anak bisa berupa sulit tidur sendiri, sering terbangun di malam hari, atau menolak tidur saat waktunya tidur malam. Masalah ini tidak hanya memengaruhi tidur anak, tetapi juga tumbuh kembang fisik, perilaku, dan prestasi belajar.
Berikut beberapa gangguan tidur anak yang paling sering ditemukan:
Jika tidak ditangani, masalah tidur bisa berdampak jangka panjang:
Cara Mengatasi Masalah Tidur pada Balita 🛏 Berikut langkah berbasis sleep hygiene anak yang dapat dicoba:
Jika masalah tidur pada balita mulai berdampak pada perilaku siang hari atau fungsi belajar, segera konsultasikan ke psikolog anak atau dokter spesialis tumbuh kembang. Klinik Lalita menyediakan layanan asesmen dan intervensi gangguan tidur anak, termasuk sesi edukasi untuk orang tua.
Masalah tidur balita (sleep disorders anak) bukan hal sepele. Dengan rutinitas yang sehat dan penanganan dini, kualitas tidur anak dapat ditingkatkan — dan ini berdampak langsung pada kesehatan, emosi, serta kemampuan belajarnya.
Yuk konsultasikan dengan tim Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita melalui: 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
7 Agustus 2025

Apa yang Terjadi Saat Anak Tidur? Peran Otak, Hormon & Memori
Tahukah AyBun? Saat anak tidur, justru banyak proses penting yang terjadi dalam tubuhnya. Tidur bukan sekadar istirahat, tetapi waktu emas untuk otak dan hormon bekerja mendukung tumbuh kembang.
Berikut adalah proses luar biasa yang terjadi selama anak tidur:
Selama tidur, otak anak menyusun kembali informasi yang ia pelajari. Ini membantu penguatan memori dan pemahaman.
Tidur membantu sistem glimpatik membersihkan sisa metabolisme dan zat beracun dari otak, menjaga kesehatannya jangka panjang.
Tidur membantu produksi sel-sel imun baru yang melawan infeksi.
Seluruh sistem tubuh kembali segar untuk beraktivitas keesokan harinya.
Kurang tidur mengganggu semua proses di atas. Dampaknya:
Selama tidur, otak dan hormon anak bekerja aktif untuk tumbuh dan berkembang. Tidur bukan aktivitas pasif, melainkan proses vital untuk memori, metabolisme, dan pertahanan tubuh. 📍 Ingin tahu apakah anak AyBun sudah tidur cukup dan berkualitas? Konsultasikan dengan tim Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita melalui: 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
5 Agustus 2025

Ciri Tidur Sehat Anak: Durasi, Kualitas, dan Pola Teratur
Banyak orang tua bertanya: “Apakah anak saya sudah cukup tidur dan tidurnya berkualitas?” Padahal, tidur sehat sangat penting untuk tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan otak, imun, dan regulasi emosi. Untuk menjawabnya, kita perlu mengenali ciri-ciri tidur sehat pada anak.
Menurut Dr. Daniel J. Buysse (Sleep. 2014), tidur sehat anak memiliki 5 indikator utama:
✅ Durasi tidur anak yang ideal mendukung pertumbuhan fisik dan daya tahan tubuh
✅ Kualitas tidur anak memengaruhi fungsi otak, emosi, dan konsentrasi
✅ Tidur teratur membantu pembentukan ritme biologis tubuh anak
✅ Anak yang memiliki sleep hygiene baik cenderung lebih bahagia dan sehat
Tidur sehat pada anak bukan hanya soal berapa jam tidur, tapi juga kualitas dan konsistensinya. Dengan mengenali ciri tidur sehat, orang tua bisa memastikan anak mendapat istirahat yang optimal untuk tumbuh cerdas, sehat, dan bahagia.
📍 Ingin konsultasi soal sleep hygiene atau pola tidur anak? Konsultasikan dengan tim Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita melalui: 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
30 Juli 2025

Pentingnya Tidur untuk Tumbuh Kembang Balita: Manfaat, Dampak, dan Tips Sehat
Tidur adalah kebutuhan dasar anak yang krusial untuk mendukung tumbuh kembang balita secara fisik, emosi, dan kognitif. Namun sayangnya, banyak orang tua belum menyadari bahwa kurang tidur pada anak bisa berdampak serius, mulai dari penurunan daya tahan tubuh hingga gangguan perilaku.
Berikut adalah manfaat tidur anak yang cukup dan berkualitas:
Jika balita tidur kurang dari yang direkomendasikan, maka risiko yang bisa terjadi antara lain:
Berikut rekomendasi durasi tidur dari American Academy of Sleep Medicine:
Untuk menciptakan kebiasaan tidur yang sehat, orang tua bisa menerapkan:
Tidur cukup dan berkualitas sangat penting untuk tumbuh kembang balita. Dengan jadwal tidur yang konsisten dan dukungan orang tua, anak bisa tumbuh sehat, cerdas, dan bahagia.
📍 Ingin tahu lebih lanjut tentang sleep hygiene atau sleep training? Konsultasikan dengan tim Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita melalui: 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
24 Juli 2025

Manfaat Berenang untuk Anak: Kesehatan, Otak, dan Cegah Tenggelam
Berenang memberikan banyak manfaat untuk anak, bukan hanya dari sisi fisik, tetapi juga perkembangan kognitif, sosial, dan keselamatan. Aktivitas ini cocok untuk anak sejak usia dini karena menyenangkan, inklusif, dan bisa dimulai bersama orang tua.
Menurut American Academy of Pediatrics, pelatihan renang anak sejak usia 1 tahun sangat disarankan, terutama untuk mencegah risiko tenggelam.
Manfaat berenang anak paling terlihat dari peningkatan koordinasi, kekuatan otot, keseimbangan, dan kemampuan motorik kasar. Anak yang rutin berenang lebih aktif dan cekatan dalam bergerak.
Renang bantu perkembangan otak anak, termasuk memori, fokus, dan fungsi eksekutif. Studi menunjukkan bahwa anak yang berenang sejak dini memiliki kemampuan berpikir dan belajar lebih baik.
Dalam kelas berenang, anak belajar kerja sama, disiplin, dan komunikasi. Bahkan, renang bermanfaat untuk anak dengan ADHD karena membantu mengurangi stres dan meningkatkan regulasi emosi.
Salah satu manfaat renang untuk anak yang sangat penting adalah water safety. Anak usia 1–4 tahun yang mengikuti pelatihan renang memiliki penurunan risiko tenggelam hingga 88%.
Agar anak bisa menikmati manfaat berenang secara optimal, perhatikan hal-hal berikut:
Berenang sangat bermanfaat untuk anak – tidak hanya melatih fisik, tetapi juga mendukung perkembangan otak, keterampilan sosial, dan mencegah risiko tenggelam. Dengan pengawasan dan pendekatan yang tepat, renang bisa menjadi aktivitas rutin yang sehat dan menyenangkan untuk anak dan keluarga.
Ingin tahu kapan waktu terbaik mengenalkan renang ke anak? 💬 Konsultasikan dengan tim Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita melalui: 🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
22 Juli 2025

Speech Delay pada Anak: Tanda, Penyebab, dan Cara Mengatasinya Apa Itu Keterlambatan Bicara (Speech Delay)?
Keterlambatan bicara anak atau speech delay adalah kondisi ketika anak belum mencapai kemampuan bahasa dan bicara yang sesuai dengan tahapan usianya. Anak bisa mengalami kesulitan mengucapkan kata, menyusun kalimat, memahami perintah, atau berkomunikasi dengan orang lain.
Masalah ini bisa muncul sejak usia dini dan dapat dikenali melalui tanda-tanda khas. Dengan pemahaman yang tepat, orang tua dapat segera mengambil langkah untuk mengatasi keterlambatan bicara anak.
Berikut beberapa gejala speech delay atau tanda bahaya (red flags) yang harus diwaspadai sesuai usia:
Berikut ini beberapa penyebab umum speech delay anak:
Jika si kecil menunjukkan tanda-tanda keterlambatan bicara, jangan menunggu terlalu lama. Speech delay sering kali membutuhkan evaluasi oleh profesional, seperti:
Deteksi dan intervensi dini dapat membantu anak mengejar keterlambatan secara optimal.
Berikut langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi speech delay anak:
Keterlambatan bicara pada anak (speech delay) adalah kondisi yang bisa dicegah dan diatasi bila dikenali sejak dini. Orang tua memiliki peran penting dalam memberikan stimulasi yang tepat dan mencari bantuan profesional saat diperlukan.
💬 Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan tim profesional di Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita untuk evaluasi tumbuh kembang dan terapi wicara anak.
🔗 kliniklalita.com | linktr.ee/klinik.lalita
19 Juli 2025

7 Tanda Kesiapan Anak Masuk Sekolah & Cara Efektif Mempersiapkannya
Memasuki sekolah bukan hanya soal umur. Anak perlu menunjukkan tanda kesiapan masuk sekolah, baik secara kognitif, sosial, emosional, hingga fisik. Tanpa persiapan anak masuk sekolah yang cukup, si kecil bisa mengalami kesulitan belajar dan beradaptasi di lingkungan baru seperti TK atau SD.
Berikut adalah beberapa indikator kesiapan anak sekolah dasar atau TK:
Jika si kecil menunjukkan sebagian besar poin di atas, besar kemungkinan ia siap masuk sekolah dan bisa beradaptasi dengan baik di lingkungan belajar.
Jika AyBun merasa anak belum siap sekolah, jangan khawatir. Ada banyak hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu proses persiapan anak masuk TK atau SD, seperti:
Gunakan permainan edukatif, buku cerita, atau diskusi ringan untuk melatih kemampuan berpikir dan logika anak.
Ajak anak bermain bersama teman sebaya, berbagi, bergiliran, dan mengenali perasaan.
Biasakan anak makan sendiri, berpakaian, dan merapikan mainannya setelah digunakan.
Ajak anak bicara rutin setiap hari, bermain tebak kata, menyanyi, dan membaca dengan suara nyaring.
Libatkan anak dalam aktivitas seperti mewarnai, melompat, berlari, atau bermain di luar rumah.
Terapkan jam tidur dan makan yang teratur agar anak terbiasa dengan pola kehidupan di sekolah.
Jika tanda kesiapan anak masuk sekolah belum terlihat walaupun sudah dilakukan stimulasi di rumah, sebaiknya segera berkonsultasi dengan psikolog anak. Di Klinik Lalita, kami menyediakan layanan assessment kesiapan sekolah untuk membantu AyBun membuat keputusan terbaik bagi si kecil.
📍 Kesiapan anak sekolah bukan hanya modal umur, tapi kombinasi keterampilan yang terlatih.
🔗 Kunjungi kliniklalita.com atau daftar melalui linktr.ee/klinik.lalita untuk konsultasi kesiapan sekolah bersama psikolog berpengalaman.
15 Juli 2025

Anak Susah Makan? Kenali Penyebab dan Cara Mengatasinya!
Banyak orang tua merasa khawatir karena anak susah makan. Si kecil mungkin hanya ingin makanan tertentu, menolak makan, atau bahkan tantrum di jam makan. Kondisi ini bisa lebih dari sekadar "fase malas makan", kemungkinan si kecil mengalami Pediatric Feeding Disorder atau dikenal juga sebagai feeding disorder anak.
Pediatric Feeding Disorder (PFD) adalah kondisi ketika proses makan terganggu dan tidak sesuai dengan usia anak. Masalah ini bisa disebabkan oleh gangguan medis, gizi, kemampuan makan (feeding skill), atau aspek psikososial anak.
Dengan kata lain, anak susah makan bisa jadi disebabkan oleh:
Berikut adalah tanda-tanda anak susah makan karena tekstur atau lainnya yang perlu diwaspadai:
Masalah makan yang dibiarkan bisa menimbulkan berbagai dampak serius, seperti:
Jika si kecil mengalami masalah ini, berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
Jika Anda sudah mencoba berbagai cara namun anak susah makan tidak juga membaik, sebaiknya konsultasikan ke dokter. Klinik Lalita menyediakan layanan evaluasi tumbuh kembang dan terapi makan dengan pendekatan profesional dan empatik.
📍 Pediatric Feeding Disorder terjadi pada 1 dari 37 anak usia balita. 👉 Jangan abaikan tanda-tandanya, penanganan sejak dini akan membantu si kecil tumbuh optimal!
🔗 Kunjungi Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita atau Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita untuk info lebih lanjut dan pendaftaran.
10 Juli 2025

Tahapan Bicara Anak: Kenali Tanda Bahaya dan Kapan Harus ke Dokter Tumbuh Kembang Anak
Setiap anak punya ritmenya sendiri dalam bertumbuh dan berkembang, termasuk dalam perkembangan bicara anak. Namun, ada tahapan bicara anak yang bisa dijadikan panduan bagi Ayah dan Bunda untuk memantau apakah perkembangan bicara sudah sesuai dengan usianya.
Kalau dirasa ada yang berbeda dari anak seusianya, jangan panik dulu. Yuk, kenali tahapan bicara anak sesuai usia dan cari tahu kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang anak.
Di usia ini, biasanya si Kecil sudah mulai:
Perlu diperhatikan: Jika di usia 9 bulan si Kecil belum mulai babbling atau tidak menoleh saat namanya dipanggil, ada baiknya Ayah Bunda mulai berdiskusi dengan tenaga profesional di klinik tumbuh kembang anak.
Beberapa hal yang bisa diperhatikan di tahap ini:
Waspadai jika: di usia 16 bulan belum ada kata bermakna yang diucapkan. Ini bisa jadi sinyal awal anak terlambat bicara.
Jika anak belum mampu menyusun dua kata saat usianya 2 tahun, mungkin ini saatnya untuk cek lebih lanjut ke dokter tumbuh kembang anak.
Jika anak belum bisa merangkai kalimat tiga kata di usia 3 tahun, jangan ragu berdiskusi dengan dokter spesialis tumbuh kembang anak atau terapis wicara anak.
Berikut cara sederhana menstimulasi perkembangan bicara anak:
Yang terpenting, tetap hadir dan responsif saat anak mencoba berkomunikasi. Ini akan memperkuat koneksi dan mempercepat proses belajarnya.
Jika Ayah Bunda merasa anak terlambat bicara, atau ingin memastikan tahapan bicara anak sesuai usia, jangan sungkan untuk berkonsultasi. Di Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita, kami menyediakan layanan lengkap mulai dari observasi, konsultasi, hingga terapi wicara anak yang disesuaikan dengan kebutuhan si Kecil.
Tenaga ahli kami siap mendampingi proses tumbuh kembang anak dengan pendekatan profesional, menyenangkan, dan penuh empati.
Perkembangan bicara anak bisa berbeda-beda. Tapi dengan mengetahui tahapan bicara anak sesuai usia, orang tua bisa lebih tenang dalam memantau dan lebih sigap saat perlu bantuan. Jika Ayah Bunda ingin tahu lebih lanjut soal terapi atau ingin menjadwalkan sesi evaluasi, Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita siap membantu.
9 Juli 2025

Stimulasi Anak Modal YouTube, Cukup Gak Sih?
Di era digital seperti sekarang, banyak orang tua yang mengandalkan YouTube untuk menstimulasi anak. Kontennya memang beragam—mulai dari video edukatif anak, lagu-lagu seru, hingga ide permainan yang menarik
Tapi... cukupkah hanya dengan menonton YouTube?
Jawabannya: belum tentu.
YouTube bisa menjadi alat bantu stimulasi anak, asal digunakan dengan bijak dan penuh pendampingan.
Berikut beberapa hal yang perlu diperhatikan agar manfaatnya maksimal:
Dengan cara ini, YouTube bisa menjadi bagian dari stimulasi, bukan pengganti interaksi nyata.
Kalau YouTube digunakan tanpa pendampingan dan tanpa batasan waktu, justru bisa menimbulkan risiko serius terhadap perkembangan anak, seperti:
Stimulasi anak yang optimal tetap datang dari pengalaman nyata. Maka dari itu, manfaatkan YouTube sebagai inspirasi, lalu ajak anak praktek langsung.
Contoh ide kegiatan:
Yang penting bukan durasi nonton videonya, tapi seberapa aktif dan terlibat anak dalam kegiatan setelahnya.
YouTube bisa menjadi alat bantu stimulasi anak, tapi tidak cukup jika digunakan sendiri tanpa interaksi.
Anak tetap membutuhkan interaksi sosial, pengalaman fisik, dan eksplorasi nyata untuk mendukung tumbuh kembangnya secara optimal.
Jadi, AyBun boleh kok pakai YouTube, asal tetap dampingi, batasi durasi, dan ajak anak aktif setelahnya. Karena yang paling berharga adalah momen belajar yang terjadi saat anak bergerak, bereksplorasi, dan terhubung langsung dengan orang di sekitarnya.
3 Juli 2025

Bermain dengan Anak atau Sekadar Menemani: Kenali Perbedaannya untuk Parenting yang Efektif
Bermain bukan sekadar aktivitas mengisi waktu, tapi merupakan kebutuhan utama anak dalam masa tumbuh kembangnya. Lewat bermain, anak belajar memahami emosi, berpikir kreatif, memecahkan masalah, dan bersosialisasi.
Bahkan menurut World Health Organization (WHO), anak-anak dianjurkan untuk aktif bermain setiap hari karena manfaatnya sangat besar untuk kesehatan fisik dan mental.
Tapi AyBun, tahukah bahwa ada perbedaan besar antara main sama anak dan nemenin anak main?
Keduanya kelihatan mirip, tapi ternyata dampaknya berbeda banget untuk perkembangan dan stimulasi anak secara menyeluruh.
Saat Ayah Bunda benar-benar bermain bersama anak, artinya:
Interaksi seperti ini bukan hanya menyenangkan, tapi juga menjadi salah satu bentuk stimulasi anak yang paling alami dan efektif. Anak belajar berkomunikasi, mengenal emosi, hingga memperkuat koneksi emosional dengan orang tua.
Sebaliknya, saat orang tua hanya nemenin main — misalnya duduk sambil pegang HP atau sekadar memperhatikan dari jauh — anak tetap bermain, tapi tidak mendapatkan interaksi dua arah yang dibutuhkan untuk perkembangan sosial dan emosinya.
Tanpa kehadiran aktif dari orang tua, kualitas stimulasi anak bisa berkurang meskipun secara fisik ia tetap bermain.
Penelitian menunjukkan bahwa peran orang tua dalam bermain punya pengaruh besar terhadap perkembangan otak dan kepribadian anak.
🔹 Menurut Harvard University’s Center on the Developing Child, bermain bersama anak membantu membentuk otak yang sehat, meningkatkan kemampuan mengatur emosi, dan memperkuat keterampilan sosial.
🔹 Dari American Academy of Pediatrics, bermain bersama juga berkontribusi pada:
Dengan kata lain, bermain bareng bukan hanya soal menemani, tapi menjadi bagian penting dari stimulasi anak untuk tumbuh menjadi individu yang sehat secara fisik dan mental.
AyBun nggak perlu mainan mahal. Justru yang dibutuhkan anak adalah kualitas interaksi dan kehadiran penuh dari orang tuanya.
Contoh aktivitas yang sederhana tapi powerful untuk stimulasi anak di rumah:
Yang penting bukan seberapa lama waktu mainnya, tapi seberapa hadir dan terlibat kita di dalamnya.
Kalau kamu ingin tahu lebih banyak tentang jenis-jenis stimulasi anak atau aktivitas yang sesuai dengan usia, tim kami di Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita siap membantu memberikan panduan yang menyenangkan dan terstruktur.
1 Juli 2025

Tahapan Bicara Anak: Kapan Perlu Waspada dan Kapan Harus ke Dokter Tumbuh Kembang?
Setiap anak punya ritmenya sendiri dalam bertumbuh dan berkembang, termasuk dalam hal berbicara. Namun, ada tahapan umum yang bisa dijadikan panduan bagi Ayah dan Bunda untuk memantau apakah perkembangan bicara anak sudah sesuai dengan usianya.
Kalau dirasa ada yang berbeda dari anak seusianya, jangan panik dulu. Yuk, kenali tahapan bicara si Kecil dan cari tahu kapan waktu yang tepat untuk berkonsultasi dengan dokter tumbuh kembang anak.
Di usia ini, biasanya si Kecil sudah mulai:
Perlu diperhatikan: Jika di usia 9 bulan si Kecil belum mulai babbling atau tidak menoleh saat namanya dipanggil, ada baiknya Ayah Bunda mulai berdiskusi dengan tenaga profesional di klinik tumbuh kembang anak.
Beberapa hal yang bisa diperhatikan di tahap ini:
Waspadai jika: di usia 16 bulan belum ada kata bermakna yang diucapkan. Ini bisa jadi sinyal awal keterlambatan bicara.
Jika anak belum mampu menyusun dua kata dengan jelas saat usianya 2 tahun, mungkin ini saatnya untuk cek lebih lanjut ke dokter tumbuh kembang anak.
Jika anak belum bisa merangkai kalimat tiga kata saat usianya 3 tahun, jangan ragu untuk berdiskusi dengan dokter spesialis tumbuh kembang atau terapis wicara anak
Berikut beberapa cara sederhana yang bisa membantu menstimulasi kemampuan bicara si Kecil:
Yang terpenting, tetap hadir dan responsif saat anak mencoba berkomunikasi. Ini akan memperkuat koneksi dan mempercepat proses belajarnya.
Jika Ayah Bunda merasa anak terlambat bicara, atau hanya ingin memastikan perkembangan anak sesuai jalurnya, jangan sungkan untuk berkonsultasi. Di Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita, kami menyediakan layanan lengkap dari observasi, konsultasi, hingga terapi wicara anak yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Tenaga ahli kami siap mendampingi proses tumbuh kembang si Kecil dengan pendekatan profesional, menyenangkan, dan penuh empati.
Perkembangan bicara memang bisa berbeda-beda pada setiap anak. Tapi dengan mengetahui tahapan bicara anak sesuai usia, orang tua bisa lebih tenang dalam memantau dan lebih sigap saat perlu bantuan.
Jika Ayah Bunda ingin tahu lebih lanjut soal terapi atau ingin jadwalkan sesi evaluasi, Klinik Tumbuh Kembang Anak Lalita siap membantu.
26 Juni 2025

