Artikel Klinik Lalita

Stimulasi Sensorik Anak Usia 1–2 Tahun yang Sensitif terhadap Tekstur
Usia 1-2 tahun adalah masa emas perkembangan sensorik (kemampuan indra: raba, lihat, dengar, rasa, cium) dan motorik (kemampuan gerak tubuh) anak. Namun, tidak sedikit orang tua yang merasa khawatir karena anaknya terlihat kurang aktif bergerak, enggan menyentuh tekstur tertentu, atau tampak kurang tertarik mengeksplorasi lingkungan sekitarnya. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan, terutama terkait apakah tumbuh kembang anak sudah berjalan sesuai tahapannya. Berikut penjelasan mengenai penyebab dan cara menstimulasi kemampuan sensorik-motorik anak usia 1-2 tahun.
Menurut Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, dokter spesialis anak yang menjadi mitra dalam Buku Saku Generasi Berani Exploring dari Betadine Indonesia, bermain merupakan kebutuhan dasar anak, bukan sekadar hiburan tambahan. Pada anak usia 1-2 tahun, aktivitas sensorik dan motorik saling berkaitan erat untuk anak belajar bergerak melalui rangsangan indra, dan sebaliknya, rangsangan indra diperkuat melalui gerakan tubuh. Bila stimulasi ini kurang optimal, dapat memengaruhi kesiapan anak dalam mengeksplorasi lingkungan, kekuatan otot dasar, hingga rasa percaya dirinya saat mencoba hal baru.
Beberapa hal umum yang dapat mendasari kondisi ini antara lain:
Apabila anak menunjukkan tanda lain, seperti sangat menghindari sentuhan secara umum, belum menunjukkan kemajuan gerak sesuai usianya, atau tampak jauh lebih rewel dibanding anak seusianya saat distimulasi, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis anak untuk evaluasi lebih lanjut.
Selama anak masih dalam proses adaptasi terhadap tekstur atau gerakan tertentu, stimulasi sensorik-motorik tetap dapat diberikan melalui aktivitas alternatif berikut:
Pemberian alternatif ini penting agar stimulasi sensorik-motorik anak tetap berjalan, sambil secara bertahap memperkenalkan kembali tekstur atau aktivitas yang sebelumnya dihindari.
Jika anak menunjukkan penghindaran terhadap sentuhan atau gerakan dalam waktu lama, disertai keterlambatan pencapaian motorik lain sesuai usianya, atau tampak sangat terganggu saat distimulasi, konsultasi dengan dokter spesialis anak sangat dianjurkan untuk mengetahui penyebab yang mendasari serta mendapatkan penanganan yang tepat.
Buku Saku Generasi Berani Exploring dari Betadine Indonesia, yang disusun bersama Prof. Dr. dr. Rini Sekartini, Sp.A(K), menyediakan panduan lengkap ide bermain sesuai tahapan usia anak beserta catatan keamanannya, sebagai referensi tambahan bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang si kecil.
Untuk informasi lebih lanjut atau melakukan konsultasi, kunjungi kliniklalita.com atau linktr.ee/klinik.lalita
19 Agustus 2026

